RSS

News Flash Olimpiade Sosiologi SMA/MA Se-Indonesia III 19 September 2015

Berikut kami sampaikan bahwa Olimpiade Sosiologi SMA/MA Se Indonesia III memperebutkan Piala Bergilir Rektor Unnes akan diselenggarakan di kampus Universitas Negeri Semarang pada hari Sabtu, 19 September 2015 mulai pukul 07.00 pagi.

Beberapa Informasi awal yang dapat kami sampaikan :

Pendaftaran dibuka 6 Juli s/d 4 September 2015
Setiap sekolah dapat mengirimkan siswanya maksimal 5 siswa (bisa kelas X, XI, atau XII)
Guru pembimbing maksimal 3 orang (dengan ketentuan jumlah pembimbing tidak boleh lebih banyak dari siswa yang dibimbing)
Lomba bersifat individual (bukan tim)
Biaya pendaftaran Rp. 175.000,-/Siswa.
Guru Pembimbing mendapatkan fasilitas gratis mengikuti Seminar Nasional “Model Pembelajaran Sosiologi SMA Materi Penelitian Sosial” yang diselenggarakan pada waktu bersamaan.

Untuk Leaflet, Undangan Resmi & Silabus Materi sudah kami sediakan di laman ini dan dapat diunduh.

Selamat berlatih dan kami nantikan partisipasi Anda pada 19 September 2015 di Semarang, Jawa Tengah.

Salam Olimpiade

 

Ayo Wisata Ke Semarang (City Tour Semarang)

Pepatah mengatakan, sambil menyelam minum air. Bagi peserta dan pendamping Olimpiade Sosiologi Se Indonesia di Unnes, selain mengikuti kompetisi yang menguras kemampuan akademik, mumpung sedang di Semarang tidak ada salahnya juga menikmati indahnya wisata di Kota Semarang. Untuk itu, panitia juga mempersiapkan paket jalan – jalan menarik “One Day City Travelling”. Wisata sehari di kota Semarang akan diselenggarakan pada hari Minggu, 20 September 2015 berangkat pukul 08.00 dari kampus Unnes. Destinasi wisata yang ditawarkan antara lain: Lawang Sewu, Kota Lama, Tugu Muda, Kuil Sam Poo Kong, dan Goa Kreo-Waduk Jatibarang (Lebih lengkap tentang destinasi wisata dapat dibaca di menu Wisata Semarang)

Cukup dengan kontribusi sebesar Rp 150.000,- / orang, peserta mendapatkan fasilitas Bus AC/video, Pemandu Wisata, Snack Pagi, Aqua Botol, Makan Siang dan Snack Sore. Informasi City Tour dapat menghubungi Pak Bayu (HP/WA: 0856-285-7396).

Konfirmasi peserta paling lambat 7 September 2015.

 

Wisata Kota Lama: Melihat Little Netherland di Semarang

Kota Lama Semarang merupakan citra visual yang menyajikan kemegahan arsitektur Eropa di masa lalu. Banyak berdiri Bagunan-bangunan kuno nan eksotis dan megah peninggalan Kolonial Belanda, seakan menyimpan segudang cerita yang tak kan pernah habis dikisahkan. Di sekitar Kota Lama dibangun kanal-kanal air yang keberadaanya masih bisa disaksikan hingga kini. Hal inilah yang menyebabkan Kota Lama mendapat julukan sebagai Little Netherland. Lokasinya yang terpisah dengan lanskap mirip kota di Eropa serta kanal yang mengelilinginya menjadikan Kota Lama seperti miniatur Belanda di Semarang.

Kota Lama 2

Satu bangunan yang paling populer dan wajib dikunjungi saat mengunjungi Kota Lama Semarang yaitu Gereja Blenduk yang sudah berusia lebih dari dua setengah abad. Gereja yang memiliki nama asli Nederlandsch Indische Kerk dan masih digunakan sebagai tempat ibadah hingga kini menjadi salah satu Landmark penting Kota Semarang.


Disebut Gereja Blenduk karena masyarakat pribumi yang kesulitan mengucapkan nama dalam bahasa Belanda akhirnya menyebutnya blenduk (bulat besar melingkar) karena memiliki atap berbentuk kubah berwarna merah bata yang terbuat dari perunggu serta dua menara kembar di depannya. Perubahan nama juga terjadi pada Jembatan Berok yang dulu menjadi pintu gerbang menuju Kota Lama. Kata Burg yang berarti jembatan dilafalkan menjadi berok dan nama itu terus dipakai hingga kini.

Sejarah Kota Lama
Diawali dari penandatangan perjanjian antara Kerajaan Mataram dan VOC pada 15 Januari 1678. Kala itu Amangkurat II menyerahkan Semarang kepada pihak VOC sebagai pembayaran karena VOC telah berhasil membantu Mataram menumpas pemberontakan Trunojoyo. Setelah Semarang berada di bawah kekuasaan penuh VOC, kota itu pun mulai dibangun. Sebuah benteng bernama Vijfhoek yang digunakan sebagai tempat tinggal warga Belanda dan pusat militer mulai dibangun. Lama kelamaan benteng tidak mencukupi, sehingga warga mulai membangun rumah di luar sebelah timur benteng. Tak hanya rumah-rumah warga, gedung pemerintahan dan perkantoran juga didirikan.

Pada tahun 1740-1743 terjadilah peristiwa Geger Pacinan, perlawanan terbesar pada kurun waktu kekuasaan VOC di Pulau Jawa. Setelah perlawanan tersebut berakhir dibangunlah fortifikasi mengelilingi kawasan Kota Lama Semarang. Setelahnya karena dianggap tidak sesuai dengan perkembangan kota yang makin pesat, fortifikasi ini dibongkar pada tahun 1824. Untuk mengenang keberadaan banteng yang mengelilingi kota lama, maka jalan-jalan yang ada diberi nama seperti Noorderwalstaat (Jalan Tembok Utara-Sekarang Jalan Merak), Oosterwalstraat (Jalan Tembok Timur – Sekarang Jalan Cendrawasih), Zuiderwalstraat (Jalan Tembok Selatan-Sekarang Jalan Kepodang) dan juga Westerwaalstraat (Jalan Tembok Barat-Sekarang Jalan Mpu Tantular).

Kota Lama 3

Sumber : http://seputarsemarang.com/kota-lama-semarang-little-netherland/

 

TUGU MUDA: Lambang Patriotisme Masyarakat Semarang

Tugu Muda 1

Tugu Muda yang berada di Titik Nol KM Kota Semarang, merupakan sebuah monumen bersejarah kota Semarang yang dibangun untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang melawan penjajah Jepang. Tugu Muda ini menggambarkan tentang semangat berjuang dan patriotisme warga semarang, khususnya para pemuda yang gigih, rela berkorban dengan semangat yang tinggi mempertahankan Kemerdekaan Indonesia pada Umumnya dan mempertahankan kota Semarang pada khususnya. Pertempuran 5 Hari dipicu oleh gugurnya Dr. Kariad, Kepala Rumah Sakit Purusara (Sekarang RSUP Dr Kariadi) karena di tembak oleh tentara Jepang saat berkendara mobil menuju Reservoir Penyuplai Air Minum warga semarang yang dikabarkan di beri racun oleh Jepang, pada 14 Oktober 1945. Gugurnya Dr Kariadi membuat amarah rakyat Semarang, sehingga akhirnya pada keesokan harinya meletus Pertempuran besar selama 5 hari berturut – turut.

Tugu Muda mulai dibangun pada tahun 1951. Tugu Muda berbentuk seperti lilin yang mengandung makna semangat juang para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan RI tidak akan pernah padam. Bentuk Tugu muda merupakan tugu yang berpenampang segi lima. Terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu landasan, badan dan kepala. Pada sisi landasan tugu terdapat relief. Keseluruhan tugu dibuat dari batu vulkanis yang diambil dari Gunung Merapi.

Untuk mempercantik Tugu Muda, dibangunlah sebuah taman yang mengelilingi Tugu Muda. Di taman ini di beri beberapa ornamen supaya tugu muda dapat dijadikann sebagai taman kota, antara lain ada air mancur, lampu-lampu warna putih dan kuning yang akan menambah kesan anggun di malam hari. Pada taman terdapat pohon cemara, duplikasi senjata bambu runcing yang tegak berdiri berjajar sebanyak 5 (lima) buah yang menggambarkan Pertempuran lima hari di Semarang dengan bersenjatakan bambu runcing.

SONY DSC

SONY DSC

Di Sekitar Tugu Muda terdapat Lawang Sewu, Museum Mandala Bhakti dan Pusat Oleh – Oleh Pandanaran. Lokasinya yang strategis beserta taman yang indah dan nyaman menjadikan Kawasan Tugu Muda menjadi salah satu paru – paru yang penting di tengah kota Semarang. Tugu Muda juga dijadikan sebuah tempat berkumpul oleh kawula muda Semarang untuk berkumpul, bercanda, photo-photo pada sore dan malam hari, terutama Malam Minggu di area Tugu Muda Semarang sangat ramai.

Sumber:

http://seputarsemarang.com/tugu-muda-1750/

http://www.indosiar.com/fokus/tugu-muda-monumen-pertempuran-5-hari-di-semarang_28433.html

 

Lawang Sewu: Ikon Wisata Kota Semarang

Tidak lengkap rasanya ke Semarang jika belum menginjakkan kaki di Landmark Kota Semarang yang sangat terkenal, Lawang Sewu. Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan kuno peninggalan jaman belanda yang dibangun pada 1904. Pelaksanaan pambangunan dimulai 27 Februari 1904 dan selesai 1907. Kondisi tanah di jalan harus mengalami perbaikan terlebih dahulu dengan penggalian sedalam 4 meter dan diganti dengan lapisan vulkanis. Bangunan pertama yang dikerjakan adalah rumah penjaga dan bangunan percetakan, dilanjutkan dengan bangunan utama. Setelah dipergunakan beberapa tahun, perluasan kantor dilaksanakan dengan membuat bangunan tambahan pada tahun 1916 – 1918. Banyaknya pintu pada bangunan Lawang Sewu merupakan usaha para arsiteknya untuk membangun gedung kantor modern yang sesuai dengan iklim tropis Semarang. Semua bahan bangunan didatangkan dari Eropa kecuali batu bata, batu alam dan kayu jati.

Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag. Lawang Sewu terletak di sisi timur Tugu Muda Semarang, atau di sudut jalan Pandanaran dan jalan Pemuda. Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Pada masyarakat Jawa, istilah sewu (seribu) sering digunakan untuk menyebutkan bilangan yang sulit dihitung karena saking banyaknya. Bangunan Lawang Sewu ini memiliki banyak pintu maupun jendela yang tinggi dan lebar.

Bangunan utama Lawang Sewu berupa tiga lantai bangunan yang memiliki dua sayap membentang ke bagian kanan dan kiri bagian. Jika pengunjung memasukkan bangunan utama, mereka akan menemukan tangga besar ke lantai dua. Di antara tangga ada kaca besar menunjukkan gambar dua wanita muda Belanda yang terbuat dari gelas. Semua struktur bangunan, pintu dan jendela mengadaptasi gaya arsitektur Belanda. Dengan segala keeksotisan dan keindahannya Lawang Sewu ini merupakan salah satu tempat yang indah untuk Pre Wedding

Sumber : http://seputarsemarang.com/lawang-sewu-pemuda-1272/

 

Kuil Sam Poo Kong : Jejak Pendaratan Laksamana Cheng Ho di Jawa

kuil 02

Semarang merupakan salah kota di Indonesia yang memiliki Pecinan (china Town) dan komunitas Tionghoa paling besar. Hal tersebut tidak mengherankan karena jejak – jejak pertama kedatangan orang China di Pulau Jawa masih terekam di Kota Semarang, salah satunya adalah keberadaan Kelenteng Sam Poo Kong.

Klenteng Sam Po Kong selain merupakan tempat ibadah dan ziarah juga merupakan tempat wisata yang menarik untuk di kunjungi. Tempat ini dikenal juga dengan sebutan Gedong Batu. Komplek Klenteng Sam po Kong terdiri atas sejumlah bangunan yaitu Klenteng Besar dan gua Sam Po Kong, Klenteng Tho Tee Kong, dan empat tempat pemujaan (Kyai Juru Mudi, Kayai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi dan mbah Kyai Tumpeng). Klenteng Besar dan gua merupakan bangunan yang paling penting dan merupakan pusat seluruh kegiatan pemujaan. Gua yang memiliki mata air yang tak pernah kering ini dipercaya sebagai petilasan yang pernah ditinggali Sam Po Tay Djien (Cheng Ho). Bentuk bangunan klenteng merupakan bangunan tunggal beratap susun. Berbeda dengan tipe klenteng yang lain, klenteng ini tidak memiliki serambi yang terpisah. Pada bagian tengah terdapat ruang pemujaan Sam Po.

sam poo kong 2

Menurut cerita, pada awal abad ke-15 Laksamana Cheng Ho sedang mengadakan pelayaran menyusuri pantai laut Jawa dan sampai pada sebuah semenanjung. Karena ada awak kapal yang sakit, ia memerintahkan mendarat dengan menyusuri sebuah sungai yang sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Ia mendarat disebuah desa bernama Simongan. Setelah sampai didaratan, ia menemukan sebuah gua batu dan dipergunakan untuk tempat bersemedi dan bersembahyang. Cheng Ho memutuskan menetap untuk sementara waktu ditempat tersebut. Sedangkan awak kapalnya yang sakit dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada disekitar tempat itu.

Setelah ratusan tahun berlalu, pada bulan Oktober 1724 diadakan upacara besar-besaran sekaligus pembangunan kuil sebagai ungkapan terima kasih kepada Sam Po Tay Djien. Dua puluh tahun sebelumnya diberitakan bahwa gua yang dipercaya sebagai tempat semedi Sam Po runtuh disambar petir. Tak berselang lama gua tersebut dibangun kembali dan didalamnya ditempatkan patung Sam Po dengan empat anak buahnya yang didatangkan dari Tiongkok. Pada perayaan tahun 1724 tersebut telah ditambahkan bangunan emperan di depan gua.

Perayaan tahunan peringatan pendaratan Zheng He merupakan salah satu agenda utama di kota Semarang. Perayaan dimulai dengan upacara agama di kuil Tay Kak Sie, di Gang Lombok. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan patung Sam Po Kong di kuil Tay Kak Sie ke Gedong Batu. Patung tersebut kemudian diletakkan berdampingan dengan patung Sam Po Kong yang asli di Gedong Batu. Tradisi unik ini telah diawali sejak pertengahan kedua abad ke-19.

Satu lagi yang menarik, jika Anda ingin berfoto dan bergaya bak Pangeran dan Putri dari Dinasti Ming, anda dapat menyewa kostum tradisional khas China di Kuil Sam Poo Kong dan bergaya sepuasnya,

Berfoto di SamPooKong

http://www.visitsemarang.com/artikel/klenteng-sam-po-kong

 

Goa Kreo, Tempat Semedi Sunan Kalijaga di Semarang

Jika sedang berkunjung ke Semarang, Anda akan rugi kalau tidak mengunjungi kawasan Waduk Jatibarang. Di sini terdapat Goa Kreo, sebuah gua alam yang konon jadi tempat semedi dan petilasan Sunan Kalijaga. Kawasan Wisata Goa Kreo  merupakan areal hutan seluas ± 5 hektar yang terletak di daerah perbukitan (Gunung Krincing ) dan lembah Sungai Kreo.

Untuk mencapai gua, Anda perlu menyeberangi bendungan menggunakan jembatan yang melintang kokoh di tengahnya. Jembatan berwarna merah ini menjadi daya tarik untuk spot foto saat Anda memasuki kawasan Goa Kreo. Puluhan anak tangga yang meliuk indah sebelum jembatan sangat fotogenik saat diabadikan dalam kamera.

goa-kreo-1Goa Kreo memiliki legenda yang menarik. Dulu saat Wali Songo berniat membangun Masjid Agung di Demak, Sunan Kalijaga membawa kayu sebagai bahan bangunan masjid melalui sungai menuju Demak. Namun di tengah perjalanan, kayu tersebut tersangkut dan perjalanan tidak bisa dilanjutkan. Sunan Kalijaga konon memohon bantuan kepada Tuhan dengan bersemedi di suatu gua yang sekarang dikenal sebagai Goa Kreo.

goa_kreo

Selain dapat menikmati gua dan waduk, tempat ini juga masih terjaga keasriannya. Terbukti dengan banyaknya kawanan monyet yang hidup di kawasan Goa Kreo. Jangan takut jika monyet-monyet ini mendekati Anda. Kadang monyet tersebut hanya ingin mendapatkan makanan dari pengunjung, bukan ingin mengganggu. Anda dapat melemparkan kacang atau roti pada monyet-monyet yang sudah jinak ini.

sumber:

http://visitsemarang.com/artikel/berwisata-ke-goa-kreo

http://travel.detik.com/read/2015/04/19/142500/2865454/1025/

 
 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.